» Dokumen dugaan menteri Malaysia perkosa TKWRenne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu | Jum’at, 7 Januari 2011, 13:56 WIB
VIVAnews – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur pernah menerima laporan perkosaan, yang diduga dilakukan seorang menteri Malaysia terhadap seorang tenaga kerja wanita (TKW), dari LSM Migrant Care. Namun, setelah memperhatikan permintaan korban, baik KBRI dan Migrant Care sepakat untuk tidak mengadukan kasus itu ke aparat berwenang.
Demikian ungkap mantan pejabat KBRI Kuala Lumpur, Tatang Razak. Saat memimpin Satuan Tugas Pelayanan dan Perlindungan WNI di KBRI Kuala Lumpur pada 2007, Tatang mengaku menerima sendiri laporan itu.
Laporan Migrant Care kepada KBRI itu, lanjut Tatang, berasal dari pengakuan adik korban bahwa kakaknya, yang berinisial Rb, menjadi korban perkosaan. Laporan yang diterima kemudian ditindaklanjuti dengan meminta keterangan langsung dari yang bersangkutan. Namun, korban akhirnya mengatakan tidak ingin melaporkan hal tersebut ke kepolisian Malaysia.
“Korban tidak mau melaporkannya. Akhirnya, kita (KBRI) sepakat dengan Migrant Care, kasus ini tidak bisa diproses lebih lanjut karena proses hukum mesti ada delik aduan dari yang bersangkutan,” ujar Tatang, yang sejak akhir 2010 dipanggil ke Jakarta untuk menjadi Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia di Kementrian Luar Negeri (Kemlu).
Dia mengatakan, situasi akan menjadi lain kalau saja korban mau menindaklanjutinya dengan melapor ke kepolisian setempat. KBRI, ujar Tatang, pasti akan menangani proses kasus dan pembelaan korban dengan berbagai upaya jika aduan telah dilayangkan.
“Tapi, sekarang, orangnya [korban] sudah di Indonesia, tidak mengadukan. Jika ada pengaduan, kalau menyangkut perlindungan WNI, maka itu menjadi tugas kita,” ujar Tatang.
Menurut laporan adik korban, kasus perkosaan ini diduga terjadi saat Rb bekerja di rumah keluarga seorang menteri bergelar Datuk Seri pada 2007. Sejumlah media alternatif dan blog di Malaysia, seperti Sentinel Asia, Free Malaysia Today, dan blog Rocky Bru menyebut nama Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Rais Yatim pernah memperkosa pembantunya yang asal Indonesia empat tahun lalu.
Rais telah membantah tudingan itu pada 5 Januari lalu. Dia menyatakan tudingan itu sebagai fitnah untuk menghancurkan reputasinya dan menyatakan siap bekerja sama bila ada penyelidikan dari pihak berwenang.
Kasus itu juga diungkap laman Harakah Daily, yang memberitakan bocoran data dari WikiLeaks. WikiLeaks dikabarkan mengacu pada blog Rocky Bru, blogger Malaysia yang juga mantan Pemimpin Redaksi The Malaysia Mail.
Dalam blog Rocky Bru, muncul tautan (link) suatu dokumen mengenai dugaan perkosaan atas seorang pembantu Indonesia, berinisial Rb. Dokumen itu mencantumkan laporan investigasi lembaga pembela hak-hak pekerja asal Indonesia, Migrant Care.
Tatang mengatakan bahwa laporan dari adik korban tersebut tidak bisa dijadikan acuan dalam pengajuan perkara. “Orang bisa ngomong apa saja. Namun yang melapor harus yang bersangkutan,” ujar Tatang. (sj)
Investigations shall prevail the truth
The blog posting about “Wikileaks: A senior politician and his maid” and another blog’s subsequent posting demanding aninvestigation based on an NGO report about the rape really hits it of. Rumours lurk in most SOPO cybersphere addict about who the ‘VVIP’ is even though these blog postings were silent about the identity of ‘accused’. Confirmation of the identity is when a Rembau PKR-parliamentary-seat-loser (or the-bloke-who-dared-to-take-on-the-SIL, depending how you look at it) Badrul Hisham “Chegu Bard” Shaharin lodged a Police report.
The name Dato’ Seri Utama Dr Rais Yatim Ph.D. now becomes the hottest controversial topic and scandalous rumour about a VVIP with a Ministerial rank in the first decade of the third millennium.
Of course, Dr Rais vehemently denied it. Then pro-UMNO blogs started to post reports on their interview with the man himself and the video recording of another serving maid in the Rais Yatim’s household, who personally knew and served alongside the alleged victim, an Indonesian national by the name of Robengah.
Yesterday when the media caught up with the Prime Minister, Dato’ Seri Mohd. Najib Tun Razak’s response on the matter was all for an investigation:
The same day, an Indonesian news portal Detiknews.com also published a story about the woman Rubingah or Robengah claiming that “Rais was a good employer. He treated me well and gave me gifts. If there is any news report about him ‘raping’ me is not true”. This report basically exonerated Rais’s position being perceived and harped on by the Oppositions as a ‘rapist’.
Good and well. Relieved for many. Especially within pro-UMNO bloggers’ circle who are ‘trapped’ in this dilemma. PRK Tenang is coming just around the corner. BN should use this to dispel all the PAS’s campaign about “An UMNO Minister is a rapist”.
Never the less, a mere three hours later the same news portal published another story that Rubingah or Robengah wanted to be left alone and refused that Migrant Care to harp on the case any longer, despite that admitting that there was a report filed back in 2007 about the alleged rape.
We also received a report about the Republic of Indonesian Embassy in Kuala Lumpur did receive a report about the allege rape back in 2007. An embassy official name Tatang Razak admitted receiving the report.
Let us watch what develops. Cybersphere has now become a very intriguing and mysterious digital dimension. This thing ‘Wikileaks’, is such a very dangerous new phrase when its expose’s are having far reaching consequences and humiliation.
*Updated Sunday 9 January 2011
Jakarta Globe reported that there was a report about a woman name Rubingah being raped by her employer back in 2007. The report also stated that Migrant Care initially did not want to make this public but since Wikileaks blew the story wide open, they decided to re-surface the issue into public domain.
- Commentary
on January 8, 2011 at 17:57 Comments (13)